Penyebab, Dampak dan Solusi Terjadinya Inflasi


Penyebab, Dampak dan Solusi Terjadinya Inflasi
Inflasi adalah suatu masalah ekonomi yang kerap kali terjadi di dalam suatu negara. Inflasi bukan hanya terjadi di Negara Indonesia saja melainkan terjadi pada semua Negara yang ada di dunia ini.

Kita sering mendengar terjadinya kenaikan harga-harga yang disertai dengan naiknya harga jasa di dunia, kenaikan tersebut terjadi bukan hanya dalam waktu sehari dua hari namun kenaikan itu terjadi dalam jangka waktu yang lama dan dalam waktu yang bersamaan kita juga mendengar kata inflasi.

Menurut ilmu ekonomi, secara sederhana Inflasi dapat diartikan sebagai peristiwa terjadinya kenaikan harga barang-barang umum secara terus menerus yang berkaitan dengan mekanisme pasar dalam suatu periode tertentu.

Inflasi secara umum dapat terjadi karena jumlah uang beredar lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Inflasi merupakan suatu gejala ekonomi yang tidak pernah dapat dihilangkan dengan tuntas. Usaha-usaha yang dilakukan biasanya hanya sampai sebatas mengurangi dan mengendalikannya. Kenaikan harga yang dimaksud adalah kenaikan harga yang bersifat sementara. Seperti apa kenaikan harga yang dimaksud? Dibawah ini akan dijelaskan lebih lanjut seperti apakah gambaran inflasi.

Baca juga : Dampak Terburuk Operasi Plastik

Apa Penyebab Terjadinya Inflasi?

Di negara Indonesia, inflasi lebih sering terjadi dibandingkan dengan deflasi. Berbeda dengan negara Jepang yang lebih cenderung mengalami deflasi secara terus menerus dan dalam jangka panjang. Lalu, mengapa inflasi lebih sering terjadi di Indonesia? Inflasi disebabkan oleh kenaikan permintaan dan kenaikan biaya produksi.

Berikut ini merupakan penjelasan lebih lanjut tentang penyebab inflasi.
  • Inflasi Karena Kenaikan Permintaan (Demand Pull Inflation)
Inflasi yang seperti ini terjadi karena adanya kenaikan permintaan untuk beberapa jenis barang saja. Peningkatan permintaan ini dapat terjadi karena peningkatan belanja pada pemerintah, peningkatan permintaan akan barang untuk diekspor, dan peningkatan permintaan barang bagi kebutuhan swasta. Kenaikan permintaan masyarakat (aggregate demand) ini mengakibatkan harga-harga naik karena penawaran tetap.
Contohnya adalah menjelang datangnya bulan Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri. Adanya peningkatan terhadap kebutuhan masyarakat tentu membuat permintaan dan harga terhadap barang-barang tertentu menjadi naik. Kenaikan ini dimulai dari kebutuhan pokok, makanan, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Sehingga dampaknya adalah terjadinya inflasi di dalam negeri.
  • Inflasi Karena Biaya Produksi (Cos Pull Inflation)
Inflasi seperti ini terjadi karena adanya kenaikan biaya produksi. Kenaikan pada biaya produksi merupakan akibat atau dampak dari kenaikan harga-harga bahan baku, misalnya karena keberhasilan serikat buruh dalam menaikkan upah atau karena kenaikan harga bahan bakar minyak. Kenaikan biaya produksi mengakibatkan harga naik dan sehingga terjadilah inflasi.

Kenaikan Biaya faktor produksi biasanya diakibatkan oleh beberapa hal, yaitu :

  1. Turunnya nilai tukar mata uang dalam negeri dengan mata uang asing atau depresiasi
  2. Inflasi di luar negeri khususnya negara partner dagang menyebabkan barang dan produk dari luar negeri juga semakin mahal.
  3. Ketidakseimbangan antara jumlah tenaga kerja dan permintaan barang produksi membuat pemerintah akan menaikkan harga produksi
Contohnya adalah naiknya harga bahan bakar minyak (BBM). Adanya kenaikan pada harga BBM tentunya juga akan meningkatkan biaya produksi dan distribusi. Pengusaha atau produsen yang tidak ingin kehilangan profit tentunya akan membebankan kenaikan biaya tersebut pada harga penjualan barangnya. Hal ini akan berakibat pada harga barang-barang lain pun secara bersama-sama ikut mengalami kenaikan sehingga terjadilah inflasi.
  • Inflasi Campuran (Mixed Inflation) 
Inflasi campuran atau mixed inflation terjadi karena adanya kenaikan penawaran dan permintaan. Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. Ketika permintaan terhadap suatu barang atau jasa bertambah, sehingga mengakibatkan penyediaan barang dan faktor produksi menjadi turun. Sementara itu, pengganti atau substitusi untuk barang dan jasa tersebut terbatas atau tidak ada. Keadaan yang tidak seimbang ini akan menyebabkan harga barang dan jasa menjadi naik.

Apa Saja Jenis-jenis Inflasi?

Jenis-jenis inflasi dilihat dari tingkat keparahannya.
Jika dilihat dari tingkat keparahannya, inflasi bisa dibedakan menjadi ringan, sedang, berat serta sangat berat.
  • Inflasi Ringan
Inflasi ringan adalah inflasi yang tidak begitu mengganggu situasi dan kondisi perekonomian suatu negara. Inflasi ini masih mudah untuk dikendalikan. Inflasi ringan hanya berkisar dibawah 10% per tahun.
  • Inflasi sedang
Inflasi sedang adalah inflasi yang belum terlalu membahayakan keadaan ekonomi akan tetapi inflasi ini dapat menurunkan tingkat kesejahteraan orang-orang yang berpenghasilan tetap. Inflasi sedang berkisar antara 10% sampai dengan 30% per tahun.
  • Inflasi berat
Inflasi berat adalah inflasi yang bisa mengacaukan kegiatan perekonomian suatu negara. Saat terjadi inflasi berat, biasanya orang akan cenderung untuk menyimpan barang dan mengurungkan niatnya untuk menabung. Mengapa demikian? karena bunga pada tabungan lebih rendah dibandingkan pertumbuhan inflasi. Inflasi berat terjadi antara 30% sampai dengan 100% per tahun.
  • Inflasi sangat berat (Hyperinflation)
Inflasi sangat berat adalah inflasi yang sudah sangat mengacaukan situasi dan kondisi perekonomian suatu negara sehingga  hal ini sulit untuk dikendalikan meskipun dengan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Inflasi sangat berat ini berada di 100% keatas setiap tahunnya.

Lalu apa dampak terjadinya inflasi?

Inflasi tidak selalu berdampak buruk bagi perekonomian. Inflasi yang terkendali justru dapat meningkatkan kegiatan perekonomian. Berikut ini adalah akibat-akibat yang ditimbulkan inflasi terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. 
  • Dampak Inflasi terhadap Pendapatan
Inflasi dapat mengubah pendapatan masyarakat. Perubahan dapat bersifat menguntungkan atau merugikan. Pada beberapa kondisi, inflasi dapat mendorong perkembangan ekonomi apabila ditangani dengan kebijakan yang tepat. Inflasi dapat mendorong para pengusaha memperluas produksinya. Sehingga, akan tumbuh kesempatan kerja baru sekaligus bertambahnya pendapatan seseorang.
  • Dampak Inflasi Terhadap Ekspor
Pada keadaan inflasi, daya saing untuk barang ekspor berkurang. Berkurangnya daya saing terjadi karena harga barang ekspor semakin mahal. Inflasi dapat menyulitkan para eksportir dan negara. Sehingga negara mengalami kerugian karena daya saing barang ekspor mengalami penurunan, yang mengakibatkan jumlah penjualan dan devisa yang diperoleh mengalami penurunan.
  • Dampak Inflasi Terhadap Minat Orang untuk Menabung
Pada masa inflasi, pendapatan rill para penabung berkurang karena jumlah bunga yang diterima pada kenyataannya berkurang karena laju inflasi. Misalnya, bulan Januari tahun 2006 seseorang menyetor uangnya ke bank dalam bentuk deposito satu tahun. Deposito tersebut menghasilkan bunga sebesar, misalnya, 15% per tahun. Apabila tingkat inflasi sepanjang Januari 2006-Januari 2007 cukup tinggi, katakanlah 11%, maka pendapatan dari uang yang didepositokan tinggal 4%. Hal ini akan menyebabkan minat orang untuk menabung akan berkurang.
  • Dampak Inflasi terhadap Kalkulasi Harga Pokok
Keadaan inflasi menyebabkan perhitungan untuk menetapkan harga pokok dapat terlalu kecil atau bahkan terlalu besar. Mengapa demikian? hal ini dikarenakan persentase dari inflasi tidak teratur, kita tidak dapat memastikan berapa persen inflasi untuk masa tertentu. Dampaknya adalah penetapan harga pokok dan harga jual sering tidak tepat. Inilah sisi negatif dari terjadinya inflasi yang dapat mengacaukan perekonomian, terutama untuk produsen.

Bagaimana Solusinya?

Tingkat inflasi yang terlalu tinggi dapat membahayakan perekonomian suatu negara. Oleh karena itu, inflasi harus segera diatasi dengan tindakan yang tepat. Tindakan seperti apa yang tepat? Yaitu tindakan yang berupa kebijakan moneter, kebijakan fiskal, atau kebijakan lainnya.

  • Kebijakan Moneter
  1. Kebijakan penetapan persediaan kas
  2. Kebijakan Diskonto
  3. Kebijakan Operasi Pasar Terbuka
  • Kebijakan Fiskal 
Kebijakan fiskal adalah langkah untuk memengaruhi penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan itu dapat memengaruhi tingkat inflasi. Kebijakan itu antara lain sebagai berikut. 
  1. Menghemat pengeluaran pemerintah
  2. Menaikkan tarif pajak
  • Kebijakan Lain di Luar Kebijakan Moneter dan Kebijakan Fiskal
Berikut ini adalah cara lain dalam mengendalikan inflasi adalah sebagai berikut.
  1. Meningkatkan produksi dan menambah jumlah barang di pasar
  2. Menetapkan harga maksimum untuk beberapa jenis barang



Share on Google Plus

About Arie Tarim

Artikelmanfaat.com adalah sebuah situs blog berisi artikel bermanfaat yang mencakup berbagai tema yang dapat dijadikan sebagai referensi serta informasi

0 komentar:

Posting Komentar